Senja yang indah adalah senja yang berpendar dari balik awan tipis, karena sisa-sisa keganasan mentari kala itu tak lagi menyengat, tapi menjelma sepeluk kehangatan cinta yang begitu nikmat. Ditemani kepak sayap burug-burung hitam, dibelai semilir angin dengan tenang mengalir, dihiasi lambaian dedaunan, senja sungguh terasa sorga.
Kulihat awan melingkar padat di atas atap bangunan mewah ketika kupunggungi senja. Sepertinya kerangka rembulan. Pucat tanpa daya, tanpa cahaya.
Tiba-tiba sebatang wajah cerah bergaun merah kian mendekat, berjalan lirih berbalut senyum. Manis. Kuduga semanis rembulan sebentar lagi, ketika senyumnya memancarkan cahaya. Rembulan yang sedang tak berarti, dalam kesempatan waktu berbeda perempuan itu juga pasti sama sekali tak menarik. Sebab arti sesuatu tidak serta merta timbul dari keberadaannya, melainkan bagaimana ia berada dan bersikap.
Semenit kemudian perempuan-perempuan gaduh datang bergelombang dari celah-celah senja. Namun nurani justeru memaksaku untuk memalingkan arah. Yang tadi perempuan, ini juga perempuan. Apa bedanya? Mungkinkah mereka datang dengan tanpa cahaya yang akan membuat mereka berarti, tidak seperti halnya seorang perempuan bergaun merah itu?
Kesendirianku kian tergugah perihal cahaya keberartian itu. Got yang kududuki tak jua angkat bicara. Seliweran orang-orang yang nyaris bertabrakan satu sama lain tak kunjung meletupkan kata, meski sekedar menyapa. Kesunyianku semakin terkapar dalam kubangan tanya yang terus bertambah.
Aku jadi teringat pada satu peristiwa tiga tahun silam, sebelum kepergianku mondok. Peristiwa yang menimpa tetangga sekaligus familiku sendiri itu berawal dari HP. Sejak ia dibelikan HP oleh suaminya, kesehariannya lantas berubah drastis. Kebiasaan ngobrol dengan tetangga-tetangga sebelahnya mulai surut. Sebab ia sudah punya kesibukan baru. Entah siapa dan dimana tempat orang yang selalu diajak atau mengajaknya ngobrol itu. SMS-an ataupan Telpon-an. Setiap kali ia bersama Hp-nya, ia selalu tampak begitu senang.
Waktu berjalan begitu cepat. Ia mulai sering menghilang dan tiba-tiba sudah ada dalam rumahnya lagi. Tak seorang pun yang tahu dimana dan kemana saat ia tak ada di rumahnya. Kepergian dan kedatangannya kembali begitu misterius, sepertinya ia memiliki ilmu menghilang tanpa jejak.
Suaminya mulai curiga. Praduga-praduga jauh tak bermoral itu lambat laun dicarikan bukti kebenarannya. Telinga dan mata dipasang di segala arah. Cukup lama. Ia tetap bertahan meski tak ada hasil sedikit pun. Sebab tampaknya dia masih belum siap kehilangan isteri cantiknya, wanita paing cantik di desa itu. Pada suatu senja yang redup dia putuskan untuk memisahkan isterinya dengan HP itu. Pertengkaran dahsyat pun tak dapat terelakkan. Dan sehari setelah itu isterinya sudah tak ada. Hingga pagi menyembul, ia tak jua kembali.
Matahari mulai meninggi, tiba-tiba seorang tetangga datang dan memberitahunya satu hal. Spontan darahnya mendesir. Tanpa pikir panjang dia datangi rumah besar milik seorang pengusaha kaya itu. Dan ternyata benar, isterinya sedang asyik bermesraan dengan seorang laki-laki bertubuh kekar. Betapa ingin dia cabik-cabik keduanya, tapi tak jadi. Kesadaran bahwa hal itu tidak mungkin bisa mengobati sakit hatinya itulah yang kemudian menuntunnya mengurungkan niatnya.
Kecurigaan itu telah terbukti. Ia telah pulang ke rumah orang tuanya sendiri tanpa menceraikan isterinya terlebih dahulu. Sementara itu orang-orang mulai menggujing perempuan paling cantik itu dengan penuh amarah dan kebencian. Semuanya sudah tahu perihal perselingkuhan itu.
Hingga kini, ia tak ubahnya sampah yang hanya bisa mencemarkan nama baik lingkungan masyarakat luas. Ia telah menjadi perempuan terkutuk yang dilaknat tatanan nilai-nilai kemasyarakatan. Orang-orang sudah tidak lagi menjulukinya sang primadona desa. Semua sudah muak padanya tanpa terkecuali, termasuk aku sendiri.
***
Senja mulai menua. Seorang gadis bergaun merah yang telah menyeret pandanganku, segerombol perempuan yang hanya menyebalkan kesendirianku, juga ia yang kata orang-orang bintang desa karena kecantikannya tapi telah mencoreng nama baik Desa, semuanya perempuan. Tapi tampaknya predikat masing-masing yang berbeda. Mereka berbeda dalam bersikap dan menentukan jalan hidup. Ada yang melangkah dengan cahaya, ada yang tidak.
Senja tinggal segores, kelebat malam mulai menyapa. Jalanan sudah tampak begitu sepi. Angin seperti telah selesai menemani mentari dan akan segera berganti pada malam. Sekawanan capung tiba-tiba kusadari telah bergelombang di atas kepala. Waktunya pulang ke pondok. Habis sudah Februari.
”Adakah cahaya yang menyertai setiap langkahku ini?”
Guluk-Guluk Ls, 28 Februari 2010



Tidak ada komentar:
Posting Komentar