
Laju menderu angkuh di atas roda-roda bundar penuh jeruji, menusuk jalan-jalan keras tanpa ujung, mengejar mentari yang mulai pupus tenggelam di balik pegunungan. Seperti kehilangan yang tak ingin terasa menyayat hati, segenap bahasa yang tak sempat meletup hendak dimuntahkan tanpa sisa.
Sebelum penyesalan menggores dada, segala kebungkaman ini harus bicara hingga selesai, sampai bait terakhir. Agar tak ada rasa bersalah, kehilangan, benci, atau bahkan dendam. Persis seperti rasa sebelum perkenalan. Persoalan menggembirakan atau tidak, biarlah waktu dan kesempatan yang berbicara, sebagai akibat dari sebuah tindakan.
Ah! Hati tak punya telinga. Mungkinkah ia sanggup memahami nasehat-nasehat ini? sekali terasa, akan membekas dan suslit terhapus lenyap. Rangkaian waktu dan kesempatan yang menghampirinya pasti dikenang tanpa bilangan hari.
Hfff!
Senja mulai memunguti sisa-sisa biasnya, membawanya pergi begitu saja, tanpa menghiraukan permukaan-permukaan yang nyaris menemukan ketenteraman hangat nurani. Kehangatan yang mulai menghisap peluh-peluh kenangan, kembali menguyupkan ingatan, yang selalu saja bergetar ketika ruang dan waktu menyuguhkan kelengangan dingin dan sepi. Ada kalanya hati menjerit tak rela. Kadang pula hanya pasrah terhadap sambutan malam yang akan menghadirkan mimpi-mimpi itu lagi.
“Akh…..!” Suaraku parau tak berdaya, tak ingin menyaksikan lambaian perpisahan itu dari balik kaca ini. kaca yang selalu terkatup ketika laju mengukur jarak dengan cepat.
Sebenarnya aku sendiri tak yakin, dengan perpisahan ini aku masih bisa teguh untuk tidak menyesali segala ketidakterusterangan bahasaku selama ini. tapi kejujuran itu sepertinya hanya akan mengeruhkan air mata. Karena apapun bahasa yang terucap senja ini, tak mungkin mampu menentang badai perpisahan yang sudah berdiri gagah di ujung sana. Apa yang mesti aku putuskan? Demi Tuhan! Saat ini aku benar-benar linglung. Meski kepercayaan itu tidak begitu kuhiraukan, tapi aku masih ingin meyakinkannya lebih dalam lagi.
Namun, saat kutanya kegelapan, kau menghitam. Kala kuminta ketenangan, kau malah berkoar-koar dengan gaduh egomu. Selalu saja kau acuhkan keinginanku. Namun ketika hati sudah tidak bisa lagi merasa, kau menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang tak dihiraukan rengekannya. Berteriak sekuat tenaga, mengigau sedemikian jauhnya, seolah handak merubah garis yang telah dalam tertoreh. Kekecewaan, penyesalan dan kesempitan jiwa kemudian mendera nestapa, lalu pecah berserakan, membakar batang-batang jiwa yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang hal ini.
Kugelengkan senyum kecut tanpa makna. Kuputar bola mata di sekelilingmu, kau tak tahu. Matamu meleleh, lalu berteriak tanpa tenaga, kemudian tersungkur lemah tak berdaya, hilang ditelan senyap.
“Tuhan! Apa aku salah bila mencintanya?” Suaramu melengking di belakang bayangan senja.
Apa? Kau mencintaiku? O, ma’afkan aku. Kukira kau betul-betul tak peduli padaku. Sikap acuhmu waktu itu kusimpulkan sebagai rasa yang sama sekali tak ada untukku. Karena itulah kemudian kuputuskan untuk tetap tutup mulut hingga kepergianku ini. karena kurasa, jika tetap kupaksakan keinginanku tercapai, luka ini hanya akan semakin terasa perih.
Tanpa terasa air membengkak dari mataku. Karena kepastian ini justeru kudapatkan ketika waktu telah benar-banar terlambat untukku. Cinta yang kulihat mengalir langsung dari bibirmu, justeru tatkala mataku hanya bisa menerawang dari balik kaca buram ini.KCN Guluk-guluk, 06 Mei 2009
Posted by , Published at 18.31 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar