
Berbagai macam persoalan dan kepentingan yang mereka selipkan di belakang mataku, ternyata telah membuat hari-hariku kasar, laksana bebatuan cadas di pegunungan sana, atau mentari penuh di tengah hari. Tidak seperti dulu, saat aku baru berkenalan dengan dunia kehalusan. Membuat tindakan dan pemahamanku penuh dengan keegoisan. Angin malam yang nyaris tak terasa menenteramkan, sepertinya telah benar-benar lenyap dari imajinasi.
Tidak! Bukankah satu-satunya ikrar yang aku tancapkan hari itu adalah mencipta kehalusan dari semua yang terdapat padaku?
Astaghfirllah… ini ujian, aku tak boleh lupa akan semua itu. Komitmen adalah jalan hidup yang harus dipertaruhkan dan dipertahankan, apapun yang terjadi, aku harus ingat itu.
Rembulan separuh diantara bongkahan awan kecil sebelah barat menyambut peluh letih badan dan mataku yang baru selesai bertarung dengan komputer demi sebuah karya. Seketika kurasakan kesejukan. Seperti angin bawah pohon di tengah terik matahari. Kulepaskan segala kesibukan yang masih menyertai hari-hari cerah, mendung ataupun hujan. Kupejemkan mata, lalu mulai membuka buku hidup yang wajib kuisi setiap hari. Kulempar imajinasi kuat-kuat, menjelajahi ruang ketenangan penuh makna. Berharap datang ide-ide tangguh kesunyian.
“Tidurlah! Bunga-bunga malam sedang menunggumu.” dahiku mengkerut, mata hatiku berputar. Tapi, ada serangga kecil menghampiriku, merampas segenap perhatian yang aku miliki. Lalu, buyarlah semuanya.
Bunga malam. Ah! Mimpi, yang akan membawaku terbang mengitari malam. Tapi aku lebih suka melukis kedalaman malam. Tentang gelap, sunyi, tenang, dan, damai. Menata hati bersama para maikat, memandangi daun-daun pekat di atas dahan, menjadi paragraf panjang sanubari.
Tidak! Bukankah satu-satunya ikrar yang aku tancapkan hari itu adalah mencipta kehalusan dari semua yang terdapat padaku?
Astaghfirllah… ini ujian, aku tak boleh lupa akan semua itu. Komitmen adalah jalan hidup yang harus dipertaruhkan dan dipertahankan, apapun yang terjadi, aku harus ingat itu.
Rembulan separuh diantara bongkahan awan kecil sebelah barat menyambut peluh letih badan dan mataku yang baru selesai bertarung dengan komputer demi sebuah karya. Seketika kurasakan kesejukan. Seperti angin bawah pohon di tengah terik matahari. Kulepaskan segala kesibukan yang masih menyertai hari-hari cerah, mendung ataupun hujan. Kupejemkan mata, lalu mulai membuka buku hidup yang wajib kuisi setiap hari. Kulempar imajinasi kuat-kuat, menjelajahi ruang ketenangan penuh makna. Berharap datang ide-ide tangguh kesunyian.
“Tidurlah! Bunga-bunga malam sedang menunggumu.” dahiku mengkerut, mata hatiku berputar. Tapi, ada serangga kecil menghampiriku, merampas segenap perhatian yang aku miliki. Lalu, buyarlah semuanya.
Bunga malam. Ah! Mimpi, yang akan membawaku terbang mengitari malam. Tapi aku lebih suka melukis kedalaman malam. Tentang gelap, sunyi, tenang, dan, damai. Menata hati bersama para maikat, memandangi daun-daun pekat di atas dahan, menjadi paragraf panjang sanubari.
Posted by , Published at 09.15 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar