Malam mengawali hamparannya dengan sekian banyak keriangan di atas warna yang mulai gelap.
Mengingat hari-hari yang telah jauh tertinggal, seperti cermin hari-hari yang akan datang. Berharap yang indah terulang kembali, merenungkan kegagalan untuk kesuksesan hari ini dan esok, menandai jurang-jurang yang pernah membenamkan diri, semuanya demi hari ini dan seterusnya. Kadang aku berfikir, untuk apa masa lalu dikenang? Karena nyatanya, tak pernah terulang peristiwa yang sama dua kali. Bahkan ada yang berkata bahwa masa lalu hanyalah penghambat waktu bergerak.
Tapi yang aku sadari saat ini, masa lalu adalah bahan permenungan dan tela’ah ulang untuk masa yang sedang atau bahkan yang akan dihadapi. Meski tidak sepenuhnya sama, mirip saja tak masalah, dihadapi dengan satu sikap hasil pembelajaran pada masa lalu.
Dulu, saat usia masih begitu dangkal memahami hidup, terasa amat mudah untuk berjalan dan berlari mengitari dunia, tak perlu melihat apalagi berfikir.
Namun ketika masa telah betul-betul meleburkan diri dengan ruang dan waktu yang lebih luas dan buas, ada kerikil dan bebatuan cadas yang tampak perlahan, menggunduk dan mengeras. Juga duri dan ranting-ranting yang patah dari dahannya, berserakan, nyaris memenuhi setiap ruas jalan yang terhampar. Jangankan berlari, sejengkal saja melangkah, perih telah tergores luka. Hidup terasa begitu mengerikan, penuh darah.
Pada hitungan masa kemudian, dari hasil permenungan sunyi, langkah mulai terayun meski tak kencang, yaitu dengan bermodalkan seurut kesabaran untuk memunguti satu persatu kerikil, batu, duri dan ranting-ranting itu dari jalanan. Perlahan tapi pasti, menggapai asa di atas tujuan.
Kudesahkan kemandegan imajinasi. Berharap bahasa akan mengalir ke dalam jiwa, seiring nafas yang kuhirup pelan. Kuketuk-ketuk tempurung kepala, berharap darah otak yang seakan beku kembali mengelilingi setiap persendian nurani.
Ketika dunia mulai menampakkan kemilau perhiasannya, aku mabuk, tenggelam di dalamnya. Larangan norma-norma kulangkahi. Pengetahuan diri kuingkari. Bahkan terkadang aku lupa pada diri yang hina ini, diri yang penuh dengan keterbatasan dan ketakberdayaan. Bahwa dunia ini ujian, bahwa kemilau itu hanyalah titipan.
Kini, aku telah betul-betul tahu, bahwa betapa mengerikan hidup ini. Terlalu banyak jalan terjal yang terhampar. Tapi syukurlah! Dengan bekal pengalaman pahit dan manis hidup yang kudapatkan dulu itulah, seperti ada jalan setapak untuk aku menjalani dan mengusahakan hidupku berjalan sesuai dengan keinginan yang timbul dari diriku. Hingga akhirnya aku sanggup melihat/mengamati sesuatu dengan seksama, termasuk keperibadian. Ada banyak keperibadian kujumpai. Sebagian sempat kukenali/kupahami, sebagian yang lain hanya lewat di hadapan pelupuk mataku. Ada yang lembut, ada pula yang kasar. Ada yang tak pernah bisa menguasai gejolak. Ada yang malah sebaliknya—mampu menyembunyikan segala kegalauan hatinya. Dari sekian banyak ragam keperibadian yang sudah pasti berbeda itulah aku sanksi, mungkinkah teori-teori pengendalian diri yang begitu umum itu bisa sesuai dengan setiap keperibadian yang selalu bertambah?
Entahlah! Aku tak pernah lepas dari kegelisahan aneh semacam ini. Kegelisahan yang lahir dari setiap kesendirian waktuku. Bahkan, sehari saja waktuku berlalu tanpa kegelisahan, hidupku sepertinya kering kerontang tak berarti.
Malam-malam yang selalu tenteram, tanpa sumpah serapah menjijikkan, tanpa pertempuran membosankan. Perselisihan menegangkan yang sampai mengencangkan urat leher kini mulai terkikis gelap dan sepi. Amarah batin yang tak pernah sanggup dilampiaskan, saat ini mulai meleleh. Bersama embun yang kian menguyupkan dedaunan, perlahan hati tertata. Luka pertemuan yang sampai berdarah-darah, pengkerdilan kepribadian, perlakuan yang tidak sepentasnya didapatkan, seperti kedip bintang malam ini.
Pada malam, segenap rasa hati diadukan tanpa bahasa. Tentang pagi, siang dan sore yang sempat disenyumi, ditertawakan atau bahkan ditangisi dengan begitu pilunya. Tanpa paraghraf ber-titik dan koma, cerita terurai dengan sejujur-jujurnya. Tanpa fitnah, tanpa pengalihan arah langkah. Tak ada yang tahu, tak ada yang paham kecuali diri dan malam.
Guluk-guluk, April 2009



Tidak ada komentar:
Posting Komentar