PENJARA ASA

PENJARA ASA

Mentari bergegas naik dengan segala kekalutan yang sekian waktu terbenam malam, disambut cericit burung-burung di atas dahan atau yang sedang beterbangan mengitari jagat. Sejuta aktivitas yang sempat tersekat gelap juga mulai mengalir seperti semula, saat semangat menderu di dada. Perlahan, dedaunan menari gemulai bersama angin, melambaikan penat kebosanan sepanjang malam. Batang-batang perjuangan mulai berseliweran, mencari setitik hidup yang entah dimana, persis seperti yang kujumpai dalam hari-hari sebelumnya. Hanya saja kesan dan pemahaman yang kudapatkan tak pernah sama.

Perjumpaan waktu dengan berbagai kesibukan, rupanya hanya mengacaukan tatanan komitmen yang telah kokoh tercipta, bukan seperti energi luar biasa yang mampu memikul hidup seberat apapun.

Mengawali perjalanan panjang ini, terbesit keinginan untuk memberikan kesan luar biasa. Batang-batang bangunan yang sepi berdiri, hembusan angin yang baru terasa bertiup ketika benda bergerak, keakraban canda tawa, bahkan dalam ruang terjepit membosankan penuh keletihan, tak satupun yang mampu melahirkan kata-kata yang pantas kiranya untuk dibanggakan sebagai pembuka paragraf mengagumkan. Berulang kali langit dilepas, berkali-kali imajinasi terdiam dalam sepi, lalu mengeja abjad-abjad dengan khusyu’, namun jiwa tak jua puas dengan kalimat yang tercipta dari setiap bibir-bibir kreatif itu.

Ah! Asa itu, seperti seorang pecinta yang baru mendapatkan kesempatan kencan pertamanya, atau sepasang pengantin baru yang hendak menghadapi kamar malam pertamanya. Ini salah, itu salah. Begini salah, begitu salah. Semuanya serba salah, meski tak ada yang mengatakannya. Kalau saja kesempatan itu disambut biasa-biasa saja, seperti biasa, mungkin sudah banyak halaman dibuka, terpahat kehidupan garis-garis yang pasti akan menjadi sejarah.

Tapi rupanya asa itu telah memenjarakan hati, melampaui akal sehat, serta mengacuhkan realita. Seperti halnya kegagalan-kegagalan yang lalu, bukanlah semata-mata karena usaha yang tak becus, melainkan lebih pada keterbatas kemampuan untuk terpenuhi, atau bahkan kemungkinan yang terbentang begitu jauh. Lalu satu persatu kekecewaan mulai berkubang, semakin dalam dan curam, dan sebagai pelampiasan, semuanya lantas disalahkan begitu saja, termasuk diri sendiri.

Mentari mulai keras menerpa persendian, sementara jemari masih kaku dengan pena yang masih tertutup rapat. Angin mulai meneduhkan rerumputan di atas kulit, tapi rupanya itu belum cukup untuk membuat tinta berbicara.

“Tuhan, apa yang mesti kulakukan?”

“Mengapa begitu sulit mendapatkan susunan abjad yang bisa dicecap jiwa?”

Sebelum kesempatan mengawali aktivitas wajib ini di lembaran yang baru hadir, sebenarnya sudah begitu letih hari-hari dengan segala tetek bengek kesibukan berkeringat, yang membuat keakraban dengan kelembutan imajinasi kian merenggang, perenungan-perenungan sunyi pun nyaris musnah sama sekali.

“Itukah sebabnya kini aku merasa seperti orang paling dungu?”

Lama sekali kebosanan termenung, mengeja kenaifan demi kenaifan dirinya sendiri, hingga di satu titik mentari tertutup awan, tanpa sadar, perlahan, jemari meliuk-liuk di atas semesta, menyuguhkan tarian kebosanan tanpa gairah. Semua itu tanpa timbangan dan pemikiran berulang-ulang. Tatkala kesadaran mengejutkan imajinasi, sudah dua halaman habis ditunggangi abjad-abjad, tentang kebosanan akan idealisme asa itu sendiri.

Ah! Ternyata tidak serumit yang difikirkan, yang sulit kalau tidak dimulai. Kalau sudah dimulai, kata-kata mengalir dengan tenangnya dari dalam diri, serupa air mengalir dari sang muara. Kekurangan-kekurangan yang ada juga segera meminta untuk diperbaiki.

Asa, seperti apapun, betapapun agungnya, jika tidak dimuali, tetaplah sebatas asa.

Guluk-Guluk, 29 Juni 2009






share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 01.40 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: