SPASIOTEMPORAL API

SPASIOTEMPORAL API

Ada api membara dari bukit barat kejauhan, terselip di antara daun-daun hujau yang mulai kemerah-merahan karena sebungkus cahaya. Tak jelas apa yang menjadikan api itu gila, yang jelas, lama kelamaan ia semakin buas, melahap apa saja yang ada di sekitarnya, tak pernah puas, tak pernah kenyang. Tak terhitung berapa banyak sudah yang ia lumat dengan ganas. Tak terbilang berapa lembar yang telah ia libas. Tak terhingga berapa ekor sudah yang ia tikam. Semuanya hangus tak bersisia. Hanya arang-arang panas yang siap menjadi abu, yang mungkin masih bisa diharapkan.

Beberapa saat kemudian, ia mulai menghentikan kobarnya, mungkin sudah bosan. Lalu padam. Hanya asap-asap pekat tersembul dari mulut-mulut angkuh bara, hasil kunyahan sang api biadab.

Selembar kertas persegi panjang dengan sepotong gambar orang yang sudah lusuh kulemparkan, setelah itu ranting-rangting, kemudian dahan rapuh; sisa rayap, lalu sebatng pohon utuh. Sungguh di luar dugaan, dengan sigap tiba-tiba api datang seperti petir menyambar kesunyian, dan melahapnya begitu mudah. Bahkan tanganku hampir saja ikut gosong.

Padam?

Tidak!!!

Tidak semudah itu, karena bara itu masih sanggup menghanguskan. Bara atau api sama saja. Walaupun bara bukan api, tapi api telah menjadikannya bagian dari api. Bara hanyalah tameng untuk mengelabuhi siapapun dan apapun.

Aduh! Tanganku…

Hmmm, kedoknya terbongkar. Mungkin karena itu ia jadikan tidak lagi menyala. Tapi kelabu. Masih berasap. Sekalilagi, ini hanya siasat; tipu daya.

Kali kaki yang aku jadikan perantara untuk melampiaskan amarah yang mulai membuncah. Tapi sayang, untuk yang ke sekian kalinya aku mesti menjerit kepanasan. Karena ternyata, api masih menaruh angkuhnya dalam bara yang telah menjadi arang.

O, mungkin yang namanya api itu tidak akan pernah menyenangkan. Meski juga memiliki manfaat, perlu ekstra hati-hati memanfaatkannya. Karena api penuh tipu muslihat yang bisa mempengaruhi siapapun atau apapun. Buktinya! Selama ia dan jenis-jenisnya masih ada, ia tetap berbahaya. Mulai dari api yang membuat terbakar jiwa atau benda, kemudian bara yang sudah pasti dapat menyakiti, serta arang yang hanya sebatas tabir untuk menyembunyikan panasnya, sampai abunya sekalipun masih lebih banyak membahayakan dari pada memberikan manfaat. Banyak mata, hidung, kaki, wajah, badan, juga air, udara, tempat-tempat wisata, ruang perkantoran dan semua isi dunia ini kotor dan pekat karenanya.

Tapi mengapa masih banyak yang menjadi api, bara, arang dan abu? Mengapa masih banyak yang lebih memilih rela mengorbankan apapun, bahkan siapapun, hanya demi sebuah reinkarnasi memalukan itu?

Hingga akhirnya petang mulai membayang dengan segala perhiasannya, lamunanku masih belum juga pulang dari pengembaraan jauhnya. Lama sekali. Sampai-sampai tak sempat aku sadari betapa berbahayanya api di hadapanku itu.

Malam benar-benar larut, masih saja lamunanku kalut. Tenangnya sunyi tak sanggup membuat aku bisa menjangkau sesuatu yang ingin aku ketahui. Tiba-tiba, sekujur tubuhku seperti tersentuh api. Aku tersentak. Ketika pandanganku betul-betul sadar, kudapai diriku telah terjebak di sebuah lingkaran api. Kutoleh ke kiri, begitu banyak yang juga terjebak. Kutoleh ke kanan, begitu banyak yang sudah hangus. Begitu juga ketika kutoleh kebelakang. Semuanya menjerit kepanasan. Api….. Api…… Api…….. Tolooong, tolong aku….. Semakin keras aku menjerit, semakin mendekat api itu. Begitu juga dengan mereka.

Hingga pakaianku menjadi api, tak ada yang datang menolong kecuali api yang semakin mendekat. Ditengah keadaan genting itu, tiba-tiba….. “tak ada yang bisa menolongmu, semuanya sudah menjadi api. Mau minta tolong pada api?

Sumenep, 22 Juni 2008




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 06.59 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: