Nestapa Burung-Burung

Nestapa Burung-Burung


Kicau burung menyapa pagi berselimut awan dari rimbun pohon bambu di belakang sekolah. Angin yang letih, gigil dedaunan dan lamunan-lamunan semu yang jauh nan tinggi, kicau burung itulah yang pertama kali menyapa sekaligus mengingatkan bahwa malam sudah berlalu. Burung-burung itu pulalah yang selalu menjadi perantara dengan kicaunya bahwa rencana hidup hari ini harus segera disusun, tentunya rencana-rencana baik dan bermanfaat.


Suasana seperti ini selalu mengingatkanku pada masa remajaku dulu, duduk di teras pondok sederhana yang hanya memiliki 3 kamar dan sedikit santri dengan tenang dan lepas. Dari tempat inilah dapat kusaksikan dan kunikmati kesejukan ruang dan waktu, wajah-wajah bening dan kesyahduan sisa embun di ujung paruh burung-burung, juga bayangan wajah seseorang dalam ingatanku.


Kicau burung-burung itu seolah mendendangkan nyanyian kehidupan yang terus mengalir dari hari ke hari. Iramanya begitu mendalam. Mereka tebarkan semangat untuk hidup hari ini dan esok, mungkin sampai nanti—entah kapan. Namun demikian, sepertinya ada rasa perih yang mereka coba pendam di antara kicaunya agar tidak menjadi beban hidup, ada memori kelam yang selalu membayang.


Kupandangi segala arah bergantian, tak terkecuali rimbun pohon bambu di belakang sekolah yang menghadap ke timur itu. Kutarik nafas pelan-pelan bersama pejaman mata, dan kuhembuskan sambil menengadahkan wajah, kemudian memandangi langit kembali. Karena mata itu adalah jendela hati, aku mencoba untuk menyejukkan hati melalui jendelanya.


Diam-diam ingatanku kembali ke waktu itu, ketika masa kanak-kanakku sudah cukup lama kujalani. Menjelang kepergianku meninggalkan masa yang paling menyenangkan itu, harus kuterima satu kenyataan pahit, bahwa burung-burung itu sudah pergi jauh meninggalkan pagi-pagi yang selalu kududuki setiap hari.


Para pengganti masa kanak-kanakku itu diam-diam memiliki naluri pemburu. Mereka memburu burung-burung yang selalu menghiasi pagi dengan tanpa belas kasihan, tanpa peduli hak hidup sebagai makhluk ciptaan Tuhan.


Jika hujan datang, mereka melepaskan baju mereka dan mengganti sarung dengan celana pendek. Mereka berlari menyisir jalanan yang terbentang di antara sawah-sawah. Guyuran hujan yang lambat laun menguyupkan pepohonan yang tumbuh tidak terlalu tinggi dan besar, semakin membuat mereka semangat untuk mengepungnya. Sebab biasanya di sana ada burung kedinginan karena terjebak hujan atau memang baru saja bermain hujan. Burung-burung yang tak ubahnya orang mabuk karena minuman keras, itu bisa dengan mudah dijinakkan, cepat lelah ketika dikejar, serta mudah jatuh tatkala terbang terlalu lama. Sayap-sayapnya waktu itu tidaklah begitu berguna, tak bisa berbuat banyak untuk menolongnya. Burung-burung itu benar-benar tak berdaya. Selesai di satu tempat atau persawahan yang sarat dengan semak belukar, mereka pindah menuju yang lain. Burung-burung yang berhasil mereka tangkap itu kemudian dikurung dalam sangkar yang memang sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya, entah dari hasil membuat sendiri atau pinjam pada temannya. Mereka tak peduli bahwa burung-burung yang mereka tangkap di tengah hujan itu selalu mati begitu saja. Mati kelaparagi berkicau lepas. Pagi yang indah itu tak lagi menyenangkan. Yang ada hanyalah kehawatiran, tak ada daya untuk melawan. Sisa hidup yang masih dimiliki harus dipergunakan untuk menghindar dari terjangan kerikil bocah-bocah ingusan itu. Kalau-kalau ada sekawanan anak kecil dengan kerikil dalam genggaman atau saku baju dan celananya, burung-burung itu harus segera terbang jauh-jauh. Sebab jika tidak, kerikil-kerikil itu akan segera melesat memburu layaknya peluru.


Mungkin pernah terlintas dalam benak burung-burung itu untuk pergi dan tak kembali lagi. Tapi kemanakah mereka akan pergi? Selama ini hidup mereka sudah tenang dan tentram di sini.


Kehidupan merangkak sedikit lebih maju. Pola hidup sudah mulai aneh-aneh dan nyeleneh. Kecanggihan teknologi semakin mempermudah orang-orang untuk mendapatkan keinginannya, mewujudkan impian dan melampiaskan kesenangannya dengan mewah. Demikian halnya dengan para pengganti masa kanak-kanak berikutnya itu, mereka pun semakin mudah untuk melanjutkan kebiasaan biadab itu. Jika dulu mereka hanya berbekal kerikil, kini sudah ada ketapel dan senapan angin yang dapat dengan mudah memburu dan menjatuhkan burung-burung. Dengan ketapel mereka mungkin masih butuh sangkar untuk memenjarakan burung-burung yang jatuh dan masih hidup. Namun jika sudah senapan angin yang tergenggam, sedikit sekali harapan untuk sekedar mendengarkan degub jantung burung-burung yang jatuh ke tanah.


Sejak saat itu burung-burung tak lagi meramaikan pagi dengan kicauannya. Mungkin mereka sudah punah ditembaki, atau mereka pergi entah kemana dan tak kembali lagi, mencari sepetak tanah yang rindang oleh pepohonan untuk membesarkan anak-anak mereka, meski tanah asing penuh bahaya rimba sekalipun.


Sejak saat itu pula aku kemudian pergi mondok ke salah satu Pondok Pesantren. Aktivitas menunggu burung-burung berkicauan di awal mentari terbit di teras pondok yang berdiri menghadap dan sekaligus berada di sebelah utara rumahku itu, yang sudah sekian hari tak datang-datang, mulai saat itu berakhir.


Dan kini di sela-sela masa libur pondok kucoba mengulang aktivitas yang pernah kulakukan dengan rutin dulu. Kicauan itu kudengar k kuhadapi. Burung-burung itu memang sudah kembali berkicau, tapi seperti dulu, masih tak ada yang peduli dengan hal-hal yang sepintas sederhana semacam ini. Kutinggalkan beranda dengan perasaan tak menentu.


ls_creative, 26 November 2011




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 01.14 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: