Jejak Hidup

Jejak Hidup


Di tengah hari yang lelah, kusinggahi lagi jejak hidupku. Terkenanglah hari-hari yang beraneka warna itu. Mulai dari yang cerah, buram dan kusut, sampai pada yang hambar membosankan. Aku merasa seperti kembali pada kehidupan itu, saat itu dan hari itu.

Seseorang tiba-tiba datang dan duduk di sebelahku. Saat kutoleh, sepertinya ia sedang menunggu aku bercerita tentang bagaimana aku melakukannya dan tetap bertahan. Awalnya aku bingung bagaimana dan dari mana mesti memulainya. Yang selama ini kupahami hanyalah perjumpaan tiba-tiba dengan seruas jalan sempit dan cahaya kehidupan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya itu. Aku tak yakin ini akan berguna baginya. Tapi aku harus bicara perihal pemahamanku tentang kedatangannya di sampingku.

***

Pada awal-awal usahaku untuk menjadi seperti sekarang ini, kubulatkan tekad untuk menulis setiap hari. Waktu itu tulisanku berkutat seputar deskripsi hari-hari. Usaha itu merupakan satu langkah agar menulis setiap hari. Hari-hari yang menjumpaiku silih berganti kuurai dengan kemampuan dan kecenderungan yang kumiliki. Dalam hal ini aku memang lebih suka percaya pada diri sendiri ketimbang terlalu terpaku melihat kemampuan orang lain.

Apa yang harus kutulis hari ini?

Ya, pertanyaan itulah yang kerap kali mengeringkan tinta hari-hariku, dan terkadang kekecewaan karenanya pun tak mampu menolong pada hari-hari selanjutnya.

Namun berkat kesungguhanku untuk melawan, pada suatu hari yang istimewa kutemukan satu pemahaman yang mampu mengatasi penghambat laju imajinasi dalam tintaku itu. Saat pertanyaan itu mulai membayang, kumulai saja menulis sekenanya, sesuai abjad-abjad yang melintas di kepala. Dari kata pembuka yang kutulis begitu saja itulah kalimat kemudian mengalir menjadi paragraf. Pemahaman itu sederhanakan dengan satu ungkapan, ”Jika bingung untuk menulis, mulailah saja, tulis apa saja. Imajinasi nanti akan mengalir sendiri karena kata-kata yang terkesan sembarangan itu”.

Jejak hidupku, orang-orang biasa menyebutnya Buku Harian, merupakan teman yang selalu setia menemani hari-hari. Kini tulisanku tidak hanya berupa deskripsi, melainkan tentang apa saja yang kudapatkan, kurasakan, kugelisahkan, kurenungkan, kufikirkan dan kupahami. Kuurai segala hal yang menjumpai hari-hariku dengan kata-kata dan pena.

***

Tiba-tiba dia menghilang, putuslah ceritaku.

Ujung Jalan Sunyi, April 2011



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 08.58 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: